Kasih Permata Latief, dialah namanya. Seorang gadis tunggal pasangan dua pengusaha sukses yang masih berusia 15 tahun itu sudah terbiasa ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Dia hanya tinggal bersama Tante Naya dan Bi Atik di rumahnya.
Di sekolah, Kasih dikenal sebagai anak yang berprestasi, sehingga mendapatkan perhatian banyak dari teman-teman dan gurunya. Diam-diam, Kasih menyimpan rasa kepada Fatan, teman sekelasnya, yang selama ini dekat dengannya. Sayangnya, Fatan masih menjalin cinta dengan Lita, sahabatnya.
Beberapa hari menjelang liburan sekolah, kabarnya Fatan putus dengan Lita. Melihat kesedihan Lita atas kepergian Fatan, Kasih merasa iba, dan lebih memilih sahabatnya. Tapi, keesokan harinya Fatan menyatakan cinta kepada Kasih. Tentunya hal itu membuat perasaan Lita hancur dan jaga jarak dengan Kasih. Tentunya hal itu membuat Kasih bingung.
"Jangan pernah anggap lagi gue sebagai sobat lo. Camkan!", Lita meninggalkan mereka berdua.
Hingga pada akhirnya, Kasih memutuskan untuk menerima Fatan. Karena tidak ada pilihan lain, dan sudah menyerah membujuk Lita untuk bersatu.
Malam harinya, Mamah dan Papah Kasih pulang setelah sibuk dari pekerjaannya masing-masing. Di moment bahagianya yang selama ini ditunggu itu dia masih terbayang dengan apa yang terjadi tadi siang. Mamah yang melihat Kasih langsung menegur.
"Kasih, kamu kenapa sayang? Mamah kan sama papah udah pulang. Tapi kok kamu diem aja?"
"Hmmm, engga papa kok"
"Mamah engga yakin." Dengan hati penuh tanya mamah memilih untuk membiarkannya, "Ya udah, kalo gitu mamah tunggu di ruang makan, ya"
"Iya, mah"
Keesokan harinya, Fatan melalui sms mengajak Kasih untuk nonton bioskop. Di saat itu, Tante Naya yang akan membangunkan tidur Kasih iseng-iseng membuka hape-nya. Dan saat di meja makan, Tante Naya membocorkan hal itu kepada mamah dan papah.
"Selamat pagi, Kasih", Tante Naya menyapa dengan nada merayu.
"Eh, tante"
"Nanti kamu jadi jalan sama Fatan?"
Tentunya hal itu membuat mamah dan papah kaget. Karena selama ini Kasih jarang cerita jika dia sedang jatuh cinta apalagi pacaran.
"Tante, apa-apaan sih?"
"Hmmm, pantesan semalem kamu diem aja. Ternyata kamu udah jadian toh", tutur mamah.
"Ya, tapi boleh kan aku jalan sama Fatan?"
"Anak papah ternyata udah gede, ya. Kalo kamu mau jalan, sama siapa pun itu, boleh-boleh aja. Asalkan inget waktu", nasihat papah.
"Iya, pah"
Silih hari berganti. Hubungan Kasih dan Fatan semakin dekat. Tapi, itu semua tidak menghantarkan Kasih pada kebahagiaan. Diam-diam di belakangnya Fatan menjalin cinta dengan Okta, tetangga sekampunya. Namun tidak bertahan lama. Belakangan ini sifat dan sikap asli Fatan juga mulai terbaca oleh Kasih. Fatan yang suka memainkan perasaan wanita, bahkan tawuran. Kasih pernah merasakan tamparan darinya. Memang sulit dipercaya, karena di sekolah Fatan dikenal sebagai anak yang baik.
Hari ini mamah akan mendampingi papah ke Sanghai selama 14 hari. Sedangkan besok Kasih harus mengikuti Olimpiade Sains di sekolahnya. Mau tidak mau dia hanya didampingi oleh Tante Naya.
Sudah ditinggal oleh orang tua, Kasih harus menelan pil pahit. Karena hape-nya jatuh dari tempat tidur, semua sms dan telepon yang masuk tidak bisa dia jawab karena layarnya rusak. Sms dari Fatan yang meminta dirinya untuk menemaninya tanding di gor pun tidak dia jawab. Sehingga Fatan marah dan memutuskan untuk meninggalkannya. Begitupun juga Lita yang kabarnya sakit-sakitan semenjak ditinggal oleh Fatan. Kasih sempat berfikiran untuk merelakan kekasihnya itu buat sahabatnya, dan yakin bahwa suatu saat dia akan mendapatkan kebahagiaan lain.
Keeseokan harinya di sekolah, sebelum olimpiade dimulai, Kasih menghampiri Fatan.
"Sayang, maafin aku, ya. Hape-ku rusak karena jatoh dari kasur kemaren"
"Alah, banyak alesan! Kita putus!"
"Fatan, dengerin aku dulu, dong! Aku engga hafal nomor hape-mu. Kalo aku hafal pasti aku udah nelpon kamu dan datang ke gor untuk nemenin kamu"
"Terserah!"
Hal itu membuat Kasih sulit untuk konsentrasi bahkan berkata-kata. Dan sepulang sekolah, dia berusaha untuk memberanikan diri ke rumah Lita.
"Kasih, lo itu sobat gue. Tapi kenapa lo rebut Fatan dari gua?"
"Maafin gua, Ta. Bukan maksud gua begitu, tapi keadaan itu mendesak gua. Dan jujur aja waktu itu lo udah ninggalin gua sebelum nerima Fatan. Gua juga udah lama suka sama dia, tapi gua tau kalo dia itu punya lo, dan engga sepantasnya gua renggut dia dari lo. Lita, lo itu sobat gua. Kalo mau, lo balikan gih sama dia"
Terdiam Lita berfikir, "Iya deh. Jika bener itu pikiran lo buat gua, makasih. Tapi jangan lagi ada kontak di antara lo dan dia!"
"Iya, Lit. Gua permisi dulu, ya. Assalamu'alaikum"
Keesokan harinya, Lita benar-benar rujuk dengan Fatan. Air susu dibalas air tuba, kebaikan Kasih selalu saja salah di mata Lita. Seperti waktu di masjid, sepatunya Lita yang hilang ditemukan oleh Kasih di dekat tempat wudhu. Bukannya berterima kasih, melainkan malah membentak dan menampar pipinya dengan sepatu hingga menjadi pusat perhatian orang di saat itu juga. Namun Kasih tidak membalasnya, dia memilih sabar.
Sayangnya, mamah dan papah belum juga pulang. Tante Naya merasa aneh melihat sifat dan sikap Kasih selama ini. Mengurung diri, tidak mau makan, kurang bergairah, dan wajahnya pun terlihat pucat. Matanya makin hari makin bengkak karena tiada hari tanpa nangis. Di sekolah, perhatian Fatan makin terarah kepada Kasih yang selama ini jarang ngumpul bersama teman-temannya. Hingga suatu hari, sekolah mereka menerima kedatangan seorang motivator, Kak Rizal namanya. Dari situlah semangat hidup Kasih bangkit kembali setelah mendapatkan motivasi darinya. Nilai dari mata pelajaran di sekolahnya pun meningkat. Hal itu tentunya membuat Lita menjadi malu, begitu pun juga Fatan.
Sudah 14 hari di negeri orang, mamah dan papah pun kembali ke tanah air. Selama ini pertanyaan mamah terjawab seiringnya waktu yang berjalan. Tante Naya tidak hanya menjadi seorang bibi untuknya, melainkan juga sahabatnya.
Kebahagiaan pasti akan berpihak pada siapa pun indah pada waktunya. Pagi di hari Sabtu, saat Kasih membuka pintu pagar rumahnya, di sana sudah ada Fatan yang berdiri membawa bunga dan motor kesayangannya bersama Lita.
"Fatan? Lita?"
"Kasih, maaf kalo selama ini aku kasar sama kamu. Aku sadar atas apa yang aku lakuin ke kamu, dan ternyata kamu itu engga kayak cewek yang selama ini aku tau. Egois, emosian. Tapi kamu itu sabar, pemaaf pula. Jujur aku beruntung dekat sama kamu", tutur Fatan.
"Iya, Kasih. Gue juga minta maaf sama lo. Gue ini bukan sahabat yang baik buat lo. Gue ini selalu iri dan dengki atas apa yang lo miliki karena gue gak pernah memiliki itu", tambah Lita.
"Alhamdulillah. Iya, aku terima itu semua. Yang lalu biar berlalu. Lebih baik kita buka lembaran yang baru, kita mulai lagi persahabatan dari awal"
"Sahabat?", Fatan terkejut.
"Hmmm, begini, Kasih. Sebenernya gua itu pengen lo balikan sama Fatan. Karena lo yang berhak menerima ini semua. Dan buat lo, Fatan, tolong berhenti mainin perasaan cewek"
Dan akhirnya Kasih rujuk dengan Fatan. Kasih pun juga kembali menjalin persahabatan dengan Lita. Bagi Kasih, masa lalu adalah gurunya di masa depan. Karena, tanpa adanya masa lalu, dia tidak akan pernah belajar dari kegagalan, kesakitan, dan kesedihan.